Loading...

DPRD Maluku Cari Peluang Penyertaan Modal Kepada RSUD Haulussy

BERITA MALUKU. Komisi D DPRD Maluku mempelajari berbagai referensi guna mencari peluang penyertaan modal daerah yang bersumber dari APBD kepada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. M. Haulussy Ambon di provinsi itu.

"Kalau PT. Bank Maluku-Maluku Utara yang merupakan BUMD pemprov saja kita setuju penyertaan modal, lalu RSUD milik pemerintah provinsi kenapa tidak bisa," kata anggota komisi D DPRD Maluku Ramly Mahulete di Ambon, Rabu (22/3/2017).

Penjelasan itu disampaikan saat rombongan komisi D dipimpin Saadiah Uluputty melakukan kunjungan dan berdialog dengan Direktur RSUD Haulussy, dr. Justina Pawa bersama para dokter serta kepala-kepala ruangan RS tersebut.

Menurut Ramly PT. Bank Maluku itu tiap tahun mendapatkan penyertaan modal Rp10 miliar dari APBD untuk memperkuat pendapatan dan struktur keuangan lembaga-lembaga yang menjadi milik pemda.

Direktur RSUD menggambarkan pendapatan dan membelanjakan seluruh kebutuhan RS.

"Bank Maluku sendiri setiap tahun mendapat alokasi APBD dan BUMD itu menyimpan uang, padahal di RSUD simpan penyakit makanya kita akan pelajari berbagai referensi untuk melihat peluang penyertaan modal daerah," ujar Ramly.

Penyertaan modal ini bisa mempengaruhi kemampuan keuangan RSUD agar bisa memberikan pelayanan kesehatan yang lebih maksimal kepada masyarakat.

Ketua Komisi D DPRD Maluku Saadiah Uluputty mengatakan percakapan hari ini adalah bagaimana manajemen dan pelayanan RSUD Haulussy ini menuju sebuah Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) yang mandiri dan kreasi serta menyelesaikan masalahnya sendiri agar mutu serta kualitas layanan ditingkatkan.

"Direktur adalah ujung tombak untuk bagaimana membawa RS ini ke depan," tandasnya.

Kemudian dalam diskusi di komisi juga sering ada masukan agar seluruh manajemen RSUD ini harus ditata, dirombak, dan diperbaiki serta menempatkan orang yang tepat sesuai spesifikasi bidangnya.

"Kita ingin layanan ini benar-benar dirasakan masyarakat meskipun masih banyak masalah yang dihadapi bersama, seperti belum tercukupinya pendapatan RSUD yang mestinya dalam satu perhitungan standar Rp100 miliar tapi capaian batu sekitar Rp48 miliar," kata Saadiah.

Sementara Ditektur RSUD Haulussy, dr. Justini Pawa mengatakan bangunan serta instalasi listrik rumah sakit sudah cukup tua usianya karena dari era tahun 1970-an.

"Kondisi atap bangunan juga banyak yang bocor kalau memperbaikinya dibutuhkan butuhkan dana Rp112 miliar," jelas Justini.

Selama ini pihak RSUD melakukan renovasi tambal sulam rumah sakit dengan anggaran pas-pasan dari BLUD dan dianjurkan memanggil konsultan melakukan penghitungan tapi manajemen RSUD tetap berupaya dengan pendapatan yang ada.

Namun mulai tahun ini manajemen RSUD lebih fokus untuk pengadaan obat-obatan dan keperluan lainnya, tetapi untuk rehab dengan DAK bisa terbantu di bidang kebidanan, ISU, ICCU, ruang mata serta ruang paru.

"Ruang Pavilium sempat ditutup sembilan kamar karena bocor dan direhab, kemudian alat rontgen yang sudah rusak jadi besi tua dan akan dilakukan pengadaan yang baru, termasuk rencana penambahan tempat tidur pada ruang ICCU," katanya.
Provinsi 6517903716105492379

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

BERITA TERBARU

# PANSUS

# PEMEKARAN